Lirik Lagu Kumpulan Puisi Cerita Lucu Pola Hidup Sehat
Matematika Fisika Kimia Biologi Teknologi Sosiologi Ekonomi Sejarah Geografi Antropologi Seni Agama Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Bahasa Bali Kewarganegaraan Penjaskes
Lowongan Kerja Bisnis Online Peluang Usaha Marketing
Tips Kecantikan Pola Hidup Sehat Makanan Sehat Jerawat
SMS Lucu SMS Motivasi SMS Cinta
Tips Blog Tips SEO Tips Komputer Tips Internet Tips Kecantikan Tips Kehidupan Tips Lain
Kata Mutiara Cerita Motivasi Gosip Artis TipsTrik Lain-lain
Showing posts with label Belajar Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Belajar Sejarah. Show all posts
Thursday, October 27, 2011 | 2:52 AM | 0 Comments

Sejarah Kerajaan Bali

KERAJAAN BALI
1.      Sri Kesari Warmadewa
Merupakan raja Bali yang pertangma yasekaligus sebagai pendiri dinasti warmadewa .Dalam prasati Sanur disebutkan bahwa Raja Sri kesari Warmadewa berhasil mengalahkan musuh-musuhnya di daerah pedalaman.
2.      Ugrasena.Sistem pemerintahhannya sangat teratur.Setelah wafat,belia digantikan oleh Air Mandatu.
3.      Tabanendra Warmadewa,Memerintah bersama istrinya bernama Ratu Luhur Subhadrika Dharadewi.
4.      Jayasingha Warmadewa.Pengganti Tabanendra.Berhasil mendirikan telaga dari sumber air suci di desa Manukraya yang disebut Tirta Empul.
5.      Jayashadu Warmadewa
6.      Sri Wijaya  Mahadewi.Ditafsirkan bahwa beliau adalah putri Empu Sindok.
7.      Dharma Udayana Warmadewa.Memerintah bersama istrinya Mahendratta.pada masa pemerintahannya,hubungan Bali dengan Jawa Timur sangat baik.Beliau memiliki tiga orang putra,yakni Airlangga,Marakatana,dan Anak Wungsu.
8.      Marakata,Pengganti Udayana.Masa pemerintahannya tidak berlangsung lama.
9.      Anak Wungsu.Bergelar Paduka Haji Anak Wungsu Nira Kalih Bhatari Lumah I Burwan Bhatara Lumah I Banu Wika.Dalam prasasti sanur,Anak Wungsu berhasil mempersatukan seluruh Bali.Kehidupan aman sejahtera pada masa pemerintahannya.
10.  Jaya Sakti.Dalam menjalankan pemerintahannya,dibantu oleh penasihat pusat yang terdiri atas para senopati dan para pimpinan keagamaan ,baik agama Hindu maupun Budha.Kitab undang-undang yang digunakan adalah Kitab Utara Widdhi Balawan dan Kitab Rajawacana.
11.  Bedahulu.Raja Sri Astasura Ratna Bhumi Banten,atau yang dikenal dengan Bedahulu merupakan raja Bali yang terakhir.Saat menjalankan pemerintahannya,beliau dibantu oleh dua orang patihnya yang bernama Kebo Iwa dan Pasunggrigis
Read more
Wednesday, October 26, 2011 | 6:28 AM | 0 Comments

Sejarah Pura Gumang-Sejarah

hSejarah Pura Gumang

Tahukah teman-teman bagaimana sejarah pura gumang, langsung saja saya berikan info asal mula pura gumang ,

  
Saat I Dewa Gede datang dari Jawa ke Bali tidak banyak penduduk Bali hirau dengan keberadaan I Dewa Gede. Pada mulanya I Dewa Gede ke Bali bukanlah ingin menjadi tokoh. I Dewa Gede ke Bali bertujuan untuk mencari kehidupan yang tenang dan damai. Ternyata di Bukit Juru itulah I Dewa Gede mendapatkan ketenangan hidup sebagai seorang petani biasa. Lebihnya dengan seorang petani biasa hanya melakukan upaya sekala dan niskala secara seimbang dalam hidupnya sebagai seorang petani yang mohon hidup dari usahanya sebagai petani.

===========================================
Sebagai petani I Dewa Gede tidak semata-mata menanam tumbuh-tumbuhan pangan saja. I Dewa Gede juga mengusahakan menanam pohon-pohonan yang di Bali disebut tanem tuwuh. Fungsi tanem tuwuh itu adalah untuk menguatkan tanah sebagai penyimpan air hujan yang turun sesuai dengan musimnya. Dengan usahanya itu muncullah berbagai mata air bahkan sampai muncul sungai yang dapat mengalirkan air sepanjang tahun ke daerah pertanian penduduk.

Usaha I Dewa Gede di samping mengembangkan tanaman pangan dan tanem tuwuh itu disertai dengan melakukan Yoga Semadi setiap hari dan lebih khusus lagi pada hari-hari subha diwasa. Apa yang dilakukan oleh I Dewa Gede itu sangat yakin tidak ada maksud untuk mencari nama dan agar beliau ditokohkan oleh masyarakat. Apa yang beliau lakukan itu sangat yakin tanpa pamerih.

I Dewa Gede melakukan hal itu karena merasakan bersama masyarakat petani betapa beratnya sebagai petani tanpa ada air yang memadai. Panasnya hidup sebagai petani dengan air yang tidak memadai I Dewa Gede bersama dengan masyarakat yang senasib bekerja dan berdoa mengolah alam dengan penuh kasih sayang dan bakti pada Tuhan.

Usahanya bersama masyarakat petani ini ternyata berhasil. Dari keberhasilannya inilah I Dewa Gede dari Jawa ini mendapatkan simpati masyarakat. Beliau pun dijadikan tokoh oleh masyarakat dengan usahanya sukses melestarikan alam. Di alam yang lestari itulah masyarakat dapat membangun kehidupan yang sejahtera.

Inilah hakikat Indra Brata sebagaimana dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra IX.304 dan juga dinyatakan juga dalam kekawin Ramayana sebagai salah satu unsur Asta Brata. Pemimpin seperti itu adalah pemimpin yang dikehendaki oleh rakyat. Bagaikan air samudera yang menguap karena panasnya matahari. Setelah di angkasa menjadi mendung, terus turun menjadi hujan membuat suburnya tanah dan menjadi sumber kehidupan makhluk hidup di bumi ini.

Demikianlah hakikat Indra Brata yang mestinya dijadikan pegangan dalam kepemimpinan Hindu seperti di Bali ini. Memang seorang pemimpin yang baik bukan yang menghendaki menjadi pemimpin tetapi yang dikehendaki oleh masyarakat luas. Orang yang dikehendaki oleh masyarakat luas.

Orang yang dikehendaki menjadi pemimpin itu bukan dengan merekayasa kehendak rakyat dengan mendadak menaruh belas kasihan pada rakyat serta menghambur-hamburkan uang membantu rakyat. Setelah menjadi pemimpin bergelimangan fasilitas hidup dengan menggunakan uang rakyat.

Dari usaha sekala-niskala I Dewa Gede inilah turunnya karunia Tuhan berupa suburnya daerah Bugbug dan sekitarnya di Karangasem. Inilah yang melatarbelakangi adanya Pura Gumang di Bukit Juru Karangasem. Piodalan di Pura Gumang ini setiap Purnama Sasih Kapat. Penyungsung pura ini ada lima desa yaitu Desa Bubug, Desa Jasi, Desa Bebandem, Desa Datah, dan Desa Ngis.

Masyarakat Bugbug yang tinggal di daerah Buleleng pun merasa bertanggung jawab ikut serta ngempon Pura Gumang ini, karena Desa Bugbug sebagai pengempon ngarep dari Pura Gumang. Desa Bugbug tempat Pura Gumang berada terdiri atas tujuh banjar dengan ratusan kepala keluarga. Tidak semua kepala keluarga mendapatkan sawah garapan. Tetapi bagi yang mendapat sawah dengan dialiri air dari sumber mata air dan sungai di Bugbug itu wajib ngayah ke Pura Gumang atau memiliki kewajiban yang lebih dari kepala keluarga yang lainnya.

Sawah-sawah itu memang hak milik pribadi yang dapat dijual kepada pihak lain. Tetapi siapa pun yang memiliki sawah tersebut selanjutnya wajib ngayah yang lebih ke Pura Gumang. Hal ini mungkin menyangkut Pura Gumang yang diyakini sebagai sumber kesuburan dari sawah-sawah yang ada di sekitar daerah Bugbug.

Setiap upacara piodalan pada Purnamaning Sasih Kapat umumnya ada upacara Nyejer selama dua hari. Umumnya Pura-pura yang lainnya nyejer tiga hari sampai sebelas hari. Nyejer tiga hari ini mengandung makna pendakian spiritual dari Bhur Loka menuju Bhuwah Loka dan yang tertinggi mencapai Swah Loka. Tetapi khusus Pura Gumang upacara nyejer-nya cukup dua hari. Dua hari nyejer ini nampaknya sebagai simbol pemujaan bertemunya Purusa Pradana atau bertemunya Lingga dan Yoni.

Pemujaan Purusa dan Pradana atau Lingga Yoni ini sebagai pemujaan untuk memohon kesuburan pertanian. Karena itu nyejer dua hari itu sebagai pesan spiritual untuk terus konsisten melakukan upaya yang seimbang menjaga kesuburan daerah pertanian. Kata nyejer dalam bahasa Bali artinya terus teguh dan tegak atau konsisten.

Dalam hidup ini memang akan ada saja pasang-surutnya atau suka dukanya. Ada saja kemungkinan hambatan, gangguan dan tantangan. Kalau semuanya itu dihadapi dengan sikap yang nyejer atau teguh dengan konsisten berpegang pada kebenaran dalam melakukan swadharma maka semuanya itu akan menjadi kekuatan tersendiri. Jadinya nyejer itu sebagai pesan spiritual dalam wujud ritual agar umat konsisten pada prinsip-prinsip hidup berdasarkan dharma dalam menghadapi dinamika kehidupan apalagi sebagai petani amat tergantung pada keadaan alam.

Bhagawad Gita II. 15 menyatakan samaduhkhasukham dhiram. Artinya seimbang dan teguhlah menghadapi dinamika suka dan suka. Dalam Subha Sita ada dinyatakan Sukhamdukham Jayate. Artinya, menanglah melawan suka dan duka. Ini artinya kebahagiaan itu adalah berada di atas suka dan duka. Kalau suka sedang menghampiri hidup kita, maka kita pun tidak lupa diri sampai menjadi orang yang sombong egois. Sebaliknya kalau duka yang datang tidak mudah frustrasi dan putus asa menghadapi hidup ini. Jadinya nyejer itu mengingatkan umat untuk bersikap konsisten menghadapi dinamika hidup.

Diambil dari http://iwbjakarta.blogspot.com  ,dengan beberapa editan.

Itu dia sejarah pura gumang ,jangan lupakan sejarah
Read more

Sejarah Desa Bugbug-Sejarah

Sejarah Desa Bugbug

Ini dia sejarah desa Bugbug,mungkin anda bertanya - tanya ,bagaimana sih asal mula desa bugbug atau sejarah desa bugbug ini .Oke langsung saja saya berikan sedikit informasinya ya .

Menurut cerita orang-orang tua balk di Desa Bugbug, Bebandem, Jasri maupun Ngis, menceritakan bahwa dahulu kala pada sekitar abad permulaan tahun masehi datanglah seorang Brahmana yang bernama Ida Gede dari Jawa ke Bali dan menginjakkan kaki pertama kali di sebelah Barat Daya Bukit Gumang yang sekarang bernama Nyuh Awit (Njung Ngawit) atau tanjung tempat menginjakkan kaki yang pertama.
Kemudian beliau menuju sebuah bukit di sebelah barat yaitu di atas Bukit Gundul, tetapi beliau tidak dapat melihat Pura Besakih dari sana. Lalu Beliau terus menelusuri bukit ke arah Timur Laut hingga sampai di Bukit Pajinengan, tetapi dari atas bukit inipun Beliau tidak dapat melihat Pura Besakih. Akhirnya Beliau menuju puncak Bukit Gumang, dan dari tempat ini ternyata Pura Besakih dengan sinarnya yang cemerlang dapat dilihat oleh Beliau. Di tempat inilah Beliau menetap bersama Istri dan Putra-Putri-Nya, lalu membuat pasraman sederhana dalam bentuk Bangunan Gaduh yaitu bale-bale bertiang kayu dan beratap ijuk. Pada waktu itu Bukit Gumang hutannya masih lebat dan ada pula sumber mata air di sana. Dari tempat ini Beliau melaksanakan YogaSemadi untuk kesejahteraan dunia ini. Selain melaksanakan Yoga-Semadi Beliau juga mendalami dan melaksanakan Usadha ( pengobatan) untuk membantu penduduk yang ada di desa-desa di kaki Bukit Gumang. Setiap hari Beliau mengunjungi gubuk-gubuk penduduk di kaki Timur Bukit Gumang yang ada pada waktu itu bernama pradesa Sabuni, juga desa sebelah utaranya bernama Belong dan desa paling utara yang bernama Lumpadang. Pada waktu itu desa Bugbug yang sekarang belum ada karena masih berupa tanah rawa-rawa yang becek (buwug).
Dalam kurun waktu puluhan tahun Beliau menetap di Bukit Gumang, Beliau juga mengajarkan pada penduduk desa tentang cara-cara bertani, memperkenalkan cangkul, tenggala (bajak) membuat alat-alat rumah tangga seperti pisau sabit, tombak, kampak, dan lain sebagainya. Beliau mengajarkan penduduk untuk membuat alat-alat tersebut bertempat disebuah tempat yang disebut "Pasujan" Untuk itu sampai saat ini masih berdiri tegak "Pura Pande".
Beliau sangat dihormati dan dicintai oleh segenap penduduk yang berada di sekitar Bukit Gumang. Atas jasa-jasa Beliau banyak penduduk lakiperempuan yang mendapat pengetahuan tentang bertani seperti : menanam
ketela, jagung, kacang-kacangan, kelapa serta buah-buahan lainnya, tak tertinggal tentang cara menanam padi gogo karena pada waktu itu belum ada aliran sungai yang melewati pemukiman penduduk, sehingga penduduk hanya bisa berladang dan berkebun. Untuk jasa Beliau itu semua penduduk dengan tutus ikhlas dan rela disertai rasa Bakti menghaturkan pada Beliau berbagai hasil pertaniannya seperti pisang, buah-buahan, jagung, labu, kelapa, dan malah ada yang menghaturkan nasi yang baru matang. Juga Beliau mengajarkan penduduk beternak seperti : sapi, kambing, kerbau, ayam dan sebagainya. Karena banyak dari penduduk menghaturkan anak sapinya pada Beliau, maka Beliau menyuruh melepas saja sapi-sapi itu disekitar Pasraman. Sapi-sapi ini kemudian menjadi banyak yang oleh penduduk dikenal dengan sebutan "Sampi Gamang" sayang sapi yang banyak itu kemudian pada jaman Belanda dan berlanjut pada jaman revolusi kemerdekaan dan setelah kemerdekaan banyak ditembak oleh pejabat atau aparat pemerintah untuk pesta-pesta dan ini oleh Kepala Desa waktu itu diijinkan, sehingga lama-kelamaan sapi-sapi itu berkurang dan habis sama sekali pada sekitar tahun 1960-an.
Pada abad-abad permulaan masehi penduduk di pradesa Sabuni, Belong dan Lumpadang tersebut diatas mohon bantuan Ida Gede sebutan Beliau oleh penduduk saat itu untuk bisa menyalurkan air sungai yang pada waktu itu mengalir ke desa sebelah Timur. ( Desa Perasi sekarang ) untuk mengairi ladang mereka.
Ida Gede lalu melakukan Yoga-Semadi untuk memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yaitu Bethara yang berstana di Gunung Agung. Maka atas Yoga Beliau itu timbulah gempa besar dari puncak Gunung Agung keluar api sangat besar disertai guntur dan kilat. Api Gunung Agung ini lalu mengalir ke bawah dan menutup aliran sungai yang menuju ke timur dan aliran sungai lalu berubah ke selatan di sebelah timur Bukit Gumang. Akibat aliran lahar yang dibawa dari muntahan Gunung Agung sepanjang aliran sungai itu berlumpur dan becek serta berbau busuk. Itulah sebabnya sungai itu disebut Sungai Buhu ( Tukad Buhu).
Setelah ada aliran sungai, daerah di sekitarnya sabuni, belong dan Lumpadang menjadi sangat subur.kemudian para penduduk berkumpul dan mohon petunjuk Ida Gede untuk membuat sawah karena air sudah bisa mengalir ketempatnya. Ida Gede memberi petunjuk agar Hutan Pahang disebelah timur sungai dan tanah-tanah di Lumpadang dan Sabuni serta Belong dibuat berpetak-petak dan tiap petak luasnya : ayahan 100 (+10 are ) ayahan 200 (+20 are ), ayahan 300 (+30 are )
Dan ayahan 400 ( + 40 are ).kemudian semua sawah dibagi-bagikan kepada masing-masing keluarga yang pada waktu itu jumlah semua keluarga baru 120 KK.( Krama Desa Ngarep ; 112 Ayah Krama, 8 Ayah Luput = pemimpin krama ) sawah ini disebut sawah Uma Desa atau Carik Madesa yang kemudian dikenal dengan sawah AYDS ( Ayahan Desa ) yaitu siapapun nantinya menguasai atau memiliki tanah itu dia wajib menanggung ayahayahan Desa, seperti:urunan, papesuan, ngayah krama, ngayah orak, ngayah daha dan ngayah taruna, serta keperluan aci-aci lainnya.
Kemudian para penggarap dikumpulkan dan dibentuk sekaa untuk mengurus air di sawah, maka timbulah organisasi air yang disebut "Sayan" (sekarang di sebut Subak). Ada Sayan "Tegakin" (pada sawah tempat atau tegak desa semula), Sayan Lumpadang, Sayan Umapahang (dibekas hutan pahang) dan sekitarnya.
Kemudian sungai yang mengalir ini, karena di musim hujan sering banjir dan tidak adanya jembatan sering merupakan hambatan bagi yang ingin menguburkan mayat karena kuburan terletak di seberang Timur Sungai malah banjirnya sering beberapa hari belum reda, oleh karenanya beberapa penduduk ingin pindah bertempat tinggal ke sebelah timur sungai. Dan tempat pertama yang di pilih adalah : disebelah Timur Bukit Dukuh bagian selatan yang sekarang disebut Pangiu (Panyumu - Permulaan). Sebelah Timur Pangiu masih rawa-rawa, yang kemudian ditimbun berdikit-dikit untuk memperluas tempat pemukiman penduduk. Dan lama-kelamaan tempat rawa yang becek ini berhasil dikeringkan dan dibangun sebuah Desa Pekraman yang disebut desa Bugbug (berasal dari Buu-buug = Becek/Rawa).
Atas jasa-jasa Ida Gede, maka segenap anggota Krama Desa ingin menunjukan rasa bakti dan terima kasihnya pada Ida Gede. Akhirnya semua mereka datang menghadap Ida Gede di Bukit Gumang. Dan disini terjadi permusyawaratan atau paiguman (dari sini asal nama Gumang = Paiguman). lsi keputusan musyawarah ialah semua krama desa menyatakan Baktinya terhadap Ida Gede dan sampai dengan keturunannya dikemudian hari akan tetap bakti dan menyungsung Ida Gede.Untuk menyatakan secara rill rasa Bakti tersebut tiap anak yang lahir balk laki maupun perempuan akan di buatkan "Aturan Pemintonan" pada saat Usaba Gede di Pura Gumang.
Hal Kisah Mengenai Ida Gede dengan istrinya berputra 4 orang, yaitu yang paling tua laki-laki bernama Ida Bethara Gede Manik, yang kedua Bethari Ayu Made, yang ketiga juga wanita bernama Bethari Ayu Nyoman Aan yang paling kecil wanita bernama Bethari Ayu Ketut. Bethari Ayu Made kawin dengan Bethara Gede Puseh dari Desa Bebandem dan berstana di Pura Desa Bebandem.
Sebenarnya Bethara Gede Puseh mencintai Putri ketiga yang bernama Bethari Ayu Nyoman, tetapi Bethari Ayu Nyoman kawin ke Jasri dengan Bethara Gede Pasisi, karena Bethari Ayu Nyoman lebih mencintai Bethara Gede Pasisi. Agar Bethara Gede Puseh di Bebandem tidak kecewa maka Beliau di kawinkan dengan Bethari Ayu Made. Dan Bethari Ayu Made mau kawin dengan Bathara Gede Puseh apabila Kakak Beliau yaitu Bethara Gede Manik mau menunggui Beliau dan menetap tinggal di Bebandem. Itulah sebabnya putra pertama Bethara Gede Gumang tetap berstana di Pura Puseh Bebandem. Adapun Putri bungsu yang juga wanita bernama Bethari Ayu Ketut kawin ke Desa Ngis dengan Bethara Gede Dangin.
Kemudian karena semua Putra-Putri Bethara Gede Gumang sudah semua pergi, maka sunyilah di Pesraman Gumang. Dan Bethara Gede Gumang beserta Istri Beliau karena merasa tugas-tugas Beliau sudah selesai, maka Beliau bermaksud menuju Sunya Loka (Moksah) dan hal ini di ketahui oleh beberapa Penduduk. Penduduk ingin menuju ke tempat Ida Bethara Gede Gumang dan Istri beryoga, tetapi Bethara Gede melarang mendekat. Karena Penduduk tidak mau pergi maka Bethara Gede Gumang membelah Ujung Tenggara Bukit Juru dan Beliau duduk di atas belahan bukit itu berlayar menuju ketengah samudra dan akhirnya moksah ditengah laut pada gili kecil itu yang di sebut "Gili Biaha" (Pecahan Bukit Gumang).
Sebelum Beliau moksah Beliau sempat bersabda yang berupa pesan yang isinya : "WAHAI KAMU ORANG-ORANG BUGBUG DAN ORANG-ORANG YANG BERBAKTI KEPADAKU DIMANAPUN KAMU BERADA,APABILA KAMU INGIN PERTOLONGANKU,PANGGILLAH NAMAKU" Disamping itu Beliau juga memprelina pengikut Beliau yang setia menjadi Wong Samar atau Wong Sumedang. Demikian cerita orang-orang tua mengenai Ida Bethara Gede Gumang, yang juga di sebut Ida Bethara Gede Mas Manik Kecatur atau juga di Desa Bebandem di kenal dengan nama Ida Bethara Gede Lumbang, ada Pula Lontar lain menyebut nama Beliau Bethara Gede Manik Andrawang. Mengenai Desa Bugbug selanjutnya, karena kesuburannya banyaklah pendatang barn yang ingin mencari Mata Pencaharian dan menetap di Desa Bugbug. Mereka yang datang dari berbagai sekte dan kasta. Ada Brahmana, Kesatriya, Wesia maupun Sudra. Seperti misalnya pernah keluarga Brahmana tinggal di Desa Bugbug, tetapi sekarang tak ada lagi, hanya lingkungan bekas tempat tinggal Beliau itu hingga sekarang masih ada bernama Banjar Adat Garia.
Karena adanya perbedaan kasta ini timbulah pertentangan dan kekacauan yang bersumber dari masalah kasta.
Akhirnya untuk meredakan dan mengamankan suasana masyarakat di Desa Bugbug, Ida Dalem Raja Klungkung ( Bali ) mengirim Seorang Bendesa dari Keluarga Seorang Bendesa Mas untuk menjadi Kepala di Desa Bugbug. Hal ini terjadi sekitar tahun 1686 M.
Bendesa ini oleh Raja tidak di berikan bukti berupa tanah atau harta bends lainya, tetapi kepadanya diberikan beberapa orang pembantu yang akan membantu mengatur dan mengamankan Masyarakat. Dan Raja menyerahkan sepenuhnya Rakyat Desa Bugbug kepada Bendesa tersebut.
Tindakan Jero Bendesa setelah menyelidiki dan mengatur penyebab keributan adalah masalah "Kasta" maka Beliau ingin menghapuskan masalah Kasta ini dengan meminta agar semua keluarga yang menetap di Desa Bugbug menyerahkan prasasti keluarganya kepada Jero Bendesa. Dan setelah prasasti semua terkumpul Jero Bendesa mengumpulkan seluruh Kepala Keluarga (Krama) dan menanyai mereka apakah mau aman atau kacau Desa ini. Masyarakat menjawab mau aman tentram. Kalau mau aman apakah kalian setuju semua prasasti ini di bakar dan semua kalian kedudukanya sama di Desa ini, Masyarakat menjawab setuju. Dan sejak itulah atas kebijaksanaan Jero Bendesa yang berwibawa dan kharismatik itu di Desa Bugbug ini tidak ada lagi Golongan Tri Wangsa dan semua sama. Hanya Kepada Jero Bendesa rakyat tetap memberikan penghormatan dengan panggilan " Jero " atau " Jero Mekel ".

Dari : blog iwb buleleng
http://iwbinfo.cmsindo.com/budaya-a-agama/59-bugbug-prasasti  


Itu dia sejarah desa bugbug .Mungkin kurang ya ?? silahkan komentar


Read more
Copyright Informasi|Tips-Trik|Belajar © 2010 - All right reserved - Using Blueceria Blogspot Theme
Best viewed with Mozilla, IE, Google Chrome and Opera.